Sabtu, 16 Oktober 2010

KaruniaMu Tak Akan Pernah Aku Lupakan Selamanya.

Karunia-MU sungguh dahsyat
Begitu indah ketika jiwa dan ruh ini dirasa telah Engkau tunjukan jalan yang lurus laksana orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Berawal dari ini hamba mulai mengenal Engkau lebih dalam, Engkau yang punya cara tersendiri dalam menunjukan hidayah dan karunianya kepada setiap makhluk. Seorang Wahyu Agus dengan berbagai sifat buruk yang melekat dalam lubuk hati terdalam. Ahh, kalo diceritakan sungguh malu dan hinanya memiliki pribadi semacam ini. Tapi tahukah engkau hal paling membuat Wahyu merasakan begitu diperhatikan oleh Sang Kholik dan membuat Wahyu menjadi seperti sekarang ini adalah apa…?
Mudah2an Allah mengampuni dosaku karena telah menceritakan hal ini. Sejak lulus SMA Wahyu sudah bertekad untuk bekerja disalah satu rumah sakit yang ada di kota Tegal, soalnya tertarik dengan pembicaraan orang tua waktu itu, katanya nanti setelah wahyu lulus SMA mau ditempatkan disalah satu rumah sakit islam, kebetulan orang tua ada kenalan dokter disana jadi lebih gampang masuknya. Disamping  juga pengin jadi seorang penyiar radio. Karena  penyiar radio merupakan cita2 dari dulu semenjak  masih duduk dibangku SMA kelas 2. Begitu kuatnya keinginan akan hal tersebut, tapi nampaknya Sang Kholik menghendaki hal lain. Kini Wahyu kuliah di Bogor (Institut Pertanian Bogor), sebuah perguruan tinggi yang tak terbesit secuilpun ada dalam benak. Hhm… Jadi inget ketika acara perpisahan kelas 3 Sekolah Menengah Atas Bhakti Praja Adiwerna di Gedung KORPRI Slawi, dateng-dateng langsung dicekal sama guru TU, kirain mau ngebagiin makanan gratis, ehh…, tau-taunya suruh maju keatas panggung. Saya bilang gini, “ maju ke atas panggung..? Emang mau ngapain Bu…!” trus Ibu itu bilang. “ pokoknya maju aja, kamu mau kuliah gratis gak sih.!” Huuh, jawaban yang membuat aku bertanya-tanya. Kemudian saya iya kan saja. “Iya, Bu nanti saya akan maju ke atas”. Yah, Sembari mengambil minuman Sprite dan makanan ringan yang tersedia dimeja depan pintu utama, masuklah wahyu ke dalam gedung.
Melihat banyak sekali orang2 didalam gedung dari mulai guru, alumni, dan tentunya siswa2nya dong. Acara perpisahan kelas 3 diawali dengan ngocehnnya sang pembawa acara, tilawah al-qur’an, dan sambutan2. Nah, tibalah saatnya Bapak Kepala Sekolah menyampaikan sambutanya dihadapan semua siswa yang hadir dari kelas 1 sampai kelas 3. Diakhir ceramahnya beliau menyampaikan sama persis dengan yang guru TU katakan. Begitu deg-degannya dicampur rasa bingung menyertaiku disaat Pak Kepala Sekolah mengumumkan nama siswa yang berhak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah gratis di Perguruan Tinggi Negeri. Elya Kurnia Dewi dan Wahyu Agus Satriyo Bakhtiar berhak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah secara gratis, semua biaya dari mulai SPP sampai  biaya hidup ditanggung, demikian kata Pak Kepala Sekolah. Gemuruh Suara tepuk tangan temen-temen dan seluruh siswa di gedung terdengar begitu meriah. Wahyu hanya bisa cengar-cengir, ada rasa malu dikit sih, dilihat seluruh manusia yang ada di gedung tersebut. Rasa penasaran masih tetep menggelayuti pikiran, setelah kami diintrogasi oleh Pak Kepala Sekolah, ternyata ada suatu program yang dibentuk oleh gabungan dari seluruh mahasiswa yang ada diseluruh Indonesia. Nama program tersebut adalah LISUMA, singkatannya Lingkar Studi Mahasiswa Indonesia.
LISUMA menawarkan program kuliah gratis kepada seluruh SMA yang ada di Kabupaten Tegal melalui kepala sekolah masing-masing.  Dari sini Wahyu dipanggil sama Bapak Kepala Sekolah untuk bersedia mengikuti kegiatan ini. Gak tau deh, kenapa Wahyu yang harus dipilih..? mungkin dulu Wahyu sering dipilih sama guru-guru untuk mengikuti olimpiade kali yah. Iya sih, dulu kelas 1 SMA wahyu dipilih sama Ibu Titik guru kimiaku untuk mengikuti olimpiade kimia se-Kabupaten Tegal, kelas 3-nya suruh ngikitin olimpiade lagi, kali ini matematika, padahal kalo dipikir2, Wahyu gak begitu paham lhoh dengan yang namanya pelajaran eksak apalagi matematika. Aneh benget…tapi kenapa yah,, kok milih Wahyu…? Huuuuh, ya sudah lah. Toh, semua akan jadi pengalaman berharga buat Wahyu.
 Kok, jadi ngelantur gini yah, oke sekarang kembali ke topik awal. Lisuma dibentuk oleh Kakak2 mahasiswa. Organisasi  ini bertujuan untuk mengajak, mengarahkan, membina, dan melatih siswa –siswa yang  mau lulus SMA untuk bersedia dibimbing oleh mereka sendiri agar bisa memasuki Perguruan Tinggi Negeri. Lisuma bekerja sama dengan Bp migas dan Yayasan Pertambangan dan Energi. Lisuma datang ke tegal dengan menawarkan pada setiap sekolah-sekolah dengan fasilitas yang menjanjikan yaitu ditanggungnya seluruh biaya hidup dan biaya pendidikan tentunya yang membikin tergiur adalah kuliah gratis sampai lulus kata Pak Kepala Sekolah.
Akhirnya bersama teman –teman  yang lain dari seluruh SMA  yang ada di kabupaten Tegal, kami berangkat menuju kota Jakarta untuk menjalani pendidikan itu. Kurang lebih Sembilan jam perjalan untuk sampai ke kota metropolitan, sepanjang perjalanan Wahyu hanya bisa menikmati pemandangan jalan raya dengan gedung2 yang menjulang tingggi, ditambah warna-warni dan kerlap-kerlip lampu yang menghiasinya. Dalam hati terbesit satu kata, “subhanallah” maha suci Engkau yang telah menciptakan semuanya ini. Yah. Maklm lah, soalnya baru pertama kalinya wahyu pergi ke luar kota. Mungkin ini karena keinginan wahyu juga kali yah, coz Wahyu pengin banget pergi ke Jakarta tapi gak ada saudara disana, Cuma bisa mendengar pengalaman temen2 yang udah pergi kesana. Setelah sampai di Jakarta, kami ditempatkan disebuah asrama yang cukup indah dan nyaman banget. Tepatnya didaerah kebayoran baru, Jakarta Timur, DEPSOS. Disitulah Wahyu bersama temen-temen yang lain berjumlah 52 orang dibimbing langsung oleh kakak2 mahasiswa dari Universitas Indonesia. Selama satu bulan kami menjalani serangkaian acara yang sungguh luar biasa, belum pernah Wahyu dapatkan ilmu, pengetahuan, dan pengalaman seperti ini ketika dulu masih duduk di bangku SMA. Ketemu dengan kakak2 mahasiswa, ketemu sama temen2 yang sungguh luar biasa dengan bakat dan potensi masing2, bisa berada kota Jakarta dan masih banyak lagi.
Seorang Untung yang ahli pijit, seorang Relly yang jago nyayi nasyid dan trener hebat, seorang Elo dengan jiwa kepemimpinannya, Ade dengan karatenya, Eko yang punya kemampuan mengusir setan, Ade gendut yang kocak dan banyak lagi hal lainnya. Melihat temen2 yang begitu hebat, sungguh ingin sekali rasanya wahyu pulang saja ke kampung halaman. Gimana tidak coba, diri ini dirasa gak punya kemampuan apa2 di banding dengan mereka. Rasa minder tetep ada dan Wahyu jalani hari-hari di asrama dengan biasa-biasa saja. Belajar juga gak pernah serius, ada kegiatan juga males2an, yang namanya udah bertekad gak ngelenjutin sekolah, mau diapain juga, gak akan mempan, walaupun di janjikan dengan penghidupan dan kuliah gratis sampai lulus.
Bicara masalah asrama ada hal yang membuat wahyu merasa gak nyaman ada disitu. Bayangkan coba, sekitar jam satu, jam dua pagi ada suara perempuan ketawa, trus kejadian waktu subuh ketika selesai menjalankan sholat subuh, pulang dari mushola mau ke kamar, setelah sampai didepan pintu, aku buka pintu itu, Wahyu biarkan terbuka pintu itu, sembari mengambil pakaian di lemari. Tiba2 pintu yang terbuka itu menutup dengan kencangnya. “Bragh”, suara pintu itu mengagetkan jantungkku. Dirasakan gak ada angin kencang dan ku lihatnya keluar tidak ada siapa2. Hal ini berhubungan persis ketika kami di trening sama temen kami sendiri Relly Margiono, pas selesai acara trening itu, disaat semua orang menangis karena merasa sedih, salah satu temen kami Elo kerasukan, akhirnya Elo disembuhkan oleh Eko dengan kemampuannya yang gak setiap orang dapat menguasai ilmu tersebut. Setelah Elo sembuh giliran temen cewek wahyu kerasukan, dan akhirnya bisa disembuhkan juga. Kejadian aneh lain juga terjadi sewaktu kami menempati kamar baru masing2.
Di kamar bawah (kebetulan asramanya tingkat dua) yang dihuni oleh cewek2, menurut penuturan salah satu temen kami, ada satu kamar yang ketika malem, lemari di kamar tersebut ada yang seolah-olah mengetuk pintunya dari dalam. Hal tersebut diceritakan oleh pelakunya sendiri sambil menangis ketakutan dan membuat geger semua penghuni asrama. Saya sendiri merasakan ada hal yang aneh di sana. Tapi, udah lah gak usah diceritain lagi, saya sendiri mrinding nyeritainnya.
Nah sekarang kalo tadi pengalaman yang serem2, yang ini bikin hati tersenyum lebar. Sebulan kami menjani pendidikan di asrama, setiap hari minggu kami diajak jalan2 oleh kakak2 mahasiswa. Minggu pertama kami dihukum karena nilai ujian kami pada jelek semua, gak jadi jalan2 deh. Tapi minggu keduanya akhirnya bisa jalan2 juga. Pergi Monas donk, apalagi pas hari itu bertepatan banget dengan ulang tahun kota Jakarta, terkesan spesial banget. Bayangkan kami berangkat ke monas naik bus way (pengalaman pertama), tapi uniknya sopir bus way itu cewek, cantik lagi, apalagi pake kebaya. Hehehe…Ini kan khas kota Jakarta yah. Sampai di Monas lagi2 Wahyu tercengan dengan suasanya yang gak bisa dibanyangkan dengan kata2. Lapangannya luas banget, dengan penempatan dan dekorasi yang begitu indah. Tapi sebelum sampe ke Monas harus ngelewatin bawah tanah dulu, dibawah tanah ada pameran lukisan dan patung2 jaman dahulu ketika Indonesia berperang melawan penjajah. Setelah sampai didepan tugu monas, huuuh,,, kami harus ngantri sampai sejam demi naik keatas. Namanya juga bertepatan dengan hari jadi kota Jakarta. Ya, gitu deh, sesaknya.
Kaki ini sudah pernah menginjak di tanah Monas, minggu ketiganya kami jalan2 lagi donk. Kali ini ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah), sungguh menakjubkan disana rumah adat dari seluruh Indonesia ada disitu. Belum lagi daratan yang dibuat sedemikian rupa dehingga menyerupai bentuk kepulauan Indonesia, ini bisa dilihat ketika kami ada di udara, naik kereta gantung. Ibarat semua masalah hilang sekejap dengan week end, seneng terussss.  Banyak deh…Minggu keempat kami gak jalan2, coz mau ujian besoknya. Sekarang tiba saatnya yang ditunggu-tunggu oleh semua calon mahasiswa di seluruh Indonesia termasuk kami juga. Bener banget, ujian SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) kami menjalani ujian ini didaerah Jakarta Timur juga, tepatnya di UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Namanya juga gak mau ngelanjutin sekolah lagi, ya Wahyu kerjain aja soal-soal ujian itu semampunya, kadang-kadang kalo ada soal yang gak ngerti  dijawab asal-asalan aja. Hehehe….
Huaaah, selesai juga trening kami selama sebulan, kegiatan ini ditutup dengan jalan2 lagi, wooow… kali ini di Ancol euy.. seluruh pantia dan juga sponsor dari Departemen Sumber Daya Mineral dan juga Bp migas hadir disitu. Tentunya sebelumnya dari LISUMA udah nyewa tempat buat acara perpisahan kami dong. Waktu itu tempatnya di pantai Ancol pas banget disamping pantainya. Jadi sekalian menikmati sunset, acara perpisahan kami dihibur dengan penampilan dari temen2 dan juga kakak2 mahasiswa, ada juga penampilan seseorang dari Ancol yang jago banget main trombone, suaranya juga bagus banget. Segala hidangan begitu mewahnya disana. Jadi inget waktu itu Wahyu makan udang galah, gede banget. Trus apa lagi yah.. lupa. Pokoknya banyak deh.
Perpisahan di Ancol adalah akhir dari trening kami di Jakarta, rindu juga sama kampung halaman. Akhirnya kami pulang juga ke Tegal, naik bus sama-sama. Sebelum sampai di rumah masing2, kami rombongan dari Jakarta diundang oleh salah seorang ketua DPRD lupa namanya, yang juga termasuk salah seorang yang membiayai kegiatan ini, untuk menghadiri pemecahan rekor muri yaitu membuat martabak terbesar di Indonesia. Kami menginap dulu di rumah pak ketua DPRD semalam sebelum berangkat ke sana. Paginya kami berangkat, dan sungguh begitu besar martabak yang di buat. Kalo dipikir2 bagaimana makannya nanti yah. Hehehe…
Selesai acara, kami pamitan sama ketua penyelenggara untuk pulang sama2 naik bus kembali ke rumah masing-masing. Bus berhenti dipinggir jalan, dimana kami berpisah di tempat ini. Suasana haru menyelimuti ketika mulai turun dari bus, dimana masih teringat dengan jelas bagaimana temen2 meneteskan air mata perpisahan. Kami saling bersalaman, berpelukan satu sama lain (tentunya yang sama jenisnya), meminta maaf atas segala kehilafan yang telah diperbuat selama sebulan di Jakarta. Jadi inget seorang Elo dengan jiwa kepemimpinanya dengan semangatnya, dengan ketegasannya memeluk tubuhku dengan erat sambil menangis seraya berucap “maaf kalo seandainya aku punya salah” begitu juga temen2 yang lain melakukan hal yang sama. Begitu hening dan harunya suasana kala itu, padahal kami ada dipinggir jalan dan dilihat banyak orang. Sungguh terasa begitu erat hubungan diantara kami waktu itu, bagai keluarga sendiri.
Semua ini adalah pemberian dari Allah, gak pernah terbanyangkan sedikitpun bisa pergi ke Jakarta dan menikmati semua itu secara cuma-cuma. Semua kenangan di Jakarta tidak akan pernah aku lupakan selama ruh belum sampai kerongkongan.
Trening dan Ujian SNMPTN udah selesai, sedangkan pengumuman lolos atau gak-nya harus nunggu sampai satu bulan. Ternyata gak kerasa banget waktu satu bulan itu berlalu dengan cepatnya. Sekitar jam 9 pagi wahyu minta ijin sama orang tua untuk pergi ke warnet dengan mengendarai sepeda, ngecek lolos apa gak sih…! Duduk didepan komputer, kesepuluh jari ini bergetar entah kenapa, nafas mulai engap-engap gak karuan. Padahal masa bodoh  lolos atau pun gak,? toh gak ingin ngelanjutin sekolah lagi, males mikirnya. Jari2 yang gemetar ini mulailah  memasukan alamat situs-nya www.snmptn.ac.id  sambil memasukan nama dan nomor ujian, tombol enter wahyu tekan, dan sungguh diluar dugaan,”selamat anda diterima sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Insitut Pertanian Bogor”. Wahyu cuma bisa diam dan mlongo menatap keanehan.
Akhirnya wahyu cari kabar dan hubungi temen2 yang lain, ternyata dari 52 orang yang mengikuti trening cuma 7 orang yang lolos ke Perguruan Tinggi Negeri. Begitu tercengangnya Wahyu mendengar kabar ini. Seorang wahyu Agus yang ngerjain soal aja asal-asalan, gak punya kemampuan apa2, gak ada niatan untuk ngelanjutin kuliah, dibandingin temen2 yang begitu hebat dan luar biasa, kok tiba2 dikejutkan dengan pengumuman macem apa ini.? Wahyu  mulai berpikir saat itu juga “ apa yang sebenarnya Allah rencanakan pada hidupku” dibandingkan dengan temen2 lain yang lebih hebat, kok mereka gak ada yang lolos.
Dari sini wahyu dah mulai stress nih, bukannya seneng karena diterima malah jadi mumet bukan kepayang. Wahyu gak pengin banget merepotkan kedua orang tua, apalagi sampe membuat orang tua merasa terbebani dengan ini.  Ternyata beasiswa yang digembar-gemborkan sama pak Kepala Sekolah semuanya gak bener. Kami memang mendapatkan fasilitas itu semua, dari mulai pendidikan dan biaya hidup semuanya ditanggung, tapi ini hanya ketika kami pas ditrening di Jakarta, selebihnya apabila masuk ke Perguruan Tinggi Negeri itu menjadi hak masing-masing individu, mau diambil atau tidak. Jadi selama ini Pak Kepala Sekolah salah persepsi. Ohh, begitu perihnya hati ini.
Wahyu merembugkan masalah ini sama orang tua, dari orang tua menginginkan dilanjutkan saja, tapi hati yang terdalam bilang wahyu gak mau ngerepotin orang tua, mengingat jumlah yang harus dibayar begitu besar Rp. 5.300.000 , uang dari mana coba. Penghasilan orang tua juga pas2an. Huuuh, apa boleh buat karena ortu maksa, Wahyu iya kan saja permintaannya utuk tetap kuliah. Wahyu  bilang gini, “Pa, Bapak sanggup membiayai semua ini” trus Bapak bilang gini, “ masalah biaya biar Bapak yang ngurus”. Ya sudah, akhirnya kami merencanakan untuk berangkat ke Bogor pas pendaftaran mahasiswa baru.
Dengan modal seadanya Wahyu  dan Ayah berangkat ke Bogor  untuk registrsi. Pada waktu itu kami haya membanyar registrasi Rp.300 ribu, padahal yang di minta adalah Rp.5,3 juta.Tapi akhirnya boleh masuk juga sih. Dengan berbekal bahwa Allah akan memberikan yang terbaik buat saya, wahyu  jalani saja kehidupan di Bogor dengan penuh kenyakinan bahwa allah tidak akan meninggalkan saya. Setelah beberapa bulan Wahyu  jalani kuliah di Bogor, akhirnya pertolongan Allah datang juga dan Wahyu mendapatkan beasiswa ETF (Eka Tjipta Fondation). Beasiswa ini menjamin seluruh tanggungan yang diberikan pihak IPB kepada si peneriama beasiswa tersebut. Akhirnya Wahyu bisa juga melunasi uang pembayaran selama satu tahun. Alhamdulillah, segala piji hanya bagi Engkau, Rabb penguasa alam semesta.
Inilah kisah nyata yang ku alami dan menjadi pondasi seandainya iman sedang lemah. Kenyakinan dengan sungguh-sungguh bahwa Allah akan menunjukan jalan yang lurus dan Allah akan memberikan hal terbaik untuk ku.
Ingat prasangkaKu terhadap seorang hamba, tergantung pada prasangka hamba tersebut kepada tuhannya. Jika kita berprasangka baik sama Allah maka Allah juga akan berprasangka baik sama kita.
Terima kasih wahai Allah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan.
Jadikanlah kami menjadi hamba yang pandai bersyukur.

19 komentar:

  1. Terkadang apa yang kita anggap terbaik untuk kita elum tentu terbaik menurut Allah, kita sebagai hamba hanya bisa berencana tapi yang menentukan bagaimana kita nantinya ya Allah SWT, karena itulah yang sebenarnya terbaik untuk kita. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Bener ga ka?

    BalasHapus
  2. Ohhh iya jelas.... Like Like Like deh

    Seneng banget blog aku ada yg mengunjungi di komen lagi. Hahahaha walau sedikit maksa.

    BalasHapus
  3. aelah ka, jangan bilang d blog atuh klo yang maksa..

    BalasHapus
  4. biar keliatan kaya yang beneran

    BalasHapus
  5. Hahahaha udah terlanjur Quro... Berarti nanti jangan panggil kak. Ceritanya kan kita gak kenal.

    BalasHapus
  6. Ohhh.. Ya udah mas wahyu aja panggilnya.. Haha

    BalasHapus
  7. Lucu.....lucu....lucu
    Saat orang-orang sudah beralih ke Media Sosil, kita masih pake cara Lama... huhuhu

    BalasHapus
  8. Yg cerita serem sekalian baca dong. Padahal momennya pas banget tuh malem malem jam 00.00 hihih

    BalasHapus
  9. Engga ah, nanti kalo malem ga bisa tidur gimana?

    BalasHapus
  10. he ehe, ini beneran dipanggil mas.
    Masayu gituuuu.... hahahahaha jadi terkesan cantik luar dalam.

    BalasHapus
  11. Nanti kalo gak bisa tidur suruh Nalis Ngelawak aja ^_^

    BalasHapus
  12. Kan harus profesional mas, jadi harus beneran..
    Hahaha

    BalasHapus
  13. Tambah ga bisa tidur aku toh ka, eh mas.. Hihi

    BalasHapus
  14. Hahaha haduh haduh

    Ngomong-ngomong ini judul baru sesi 1, masih ada sesi sesi berikutnya. hehe secara masih hidup sampe sekarang. Masih banyak pengalaman2 belum di dokumentasikan.

    Belajar nulis yuk..

    Jadi nanti ada kenangan yang ditinggalkan ^_^

    BalasHapus
  15. Sip sip sip siapa tau bisa bikin buku

    BalasHapus
  16. Helloo Bro,,,
    Mampir cz ada nama ane,,,
    ayo nulis lagi,,
    ketawa maksimal pas baca bagian kesurupan.. :D

    BalasHapus